Selasa, 07 Juni 2011

Konsep Dasar dalam Sistem Sosial Budaya


BAB I
PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang
Sistem sosial budaya merupakan konsep untuk menelaah asumsi-asumsi dasar dalam kehidupan masyarakat. Pemberian makna konsep sistem sosial budaya dianggap penting karena tidak hanya untuk menjelaskan apa yang dimaksud dengan sistem sosial budaya itu sendiri, tetapi memberikan eksplanasi deskripsinya melalui kenyataan di dalam kehidupan masyarakat. (Jacobus Ranjabar, 2006 : 2-3)
B.       Pengertian Konsep
Konsep merupakan ide, gagasan, atau pemikiran-pemikiran yang menjadi dasar ( pembawa arti ). Pada dasarnya konsep masih berwujud abstrak atau hanya angan-angan saja.
Sistem Sosial Budaya
a)      Sistem
Sistem merupakan pola-pola keteraturan; kesatuan yang terdiri dari komponen atau elemen yang saling berhubungan.
b)      Budaya
Budaya sangat erat hubungannya dengan masyarakat. Segala sesuatu yang terdapat dalam masyarakat ditentukan oleh kebudayaan yang dimiliki oleh masyarakat itu sendiri
Komponen Utama dalam Kebudayaan
1.      Kebudayaan Material
Mengacu pada semua ciptaan manusia yang konkret
2.      Kebudayaan Nonmaterial
Ciptaan-ciptaan abstrak yang diwariskan dari generasi ke generasi Jadi, konsep dalam sistem sosial budaya dapat dideskripsikan sebagai suatu pemikiran dan ide yang berisikan mengenai komponen-komponen pembentuk kebudayaan suatu masyarakat.
C.      Pengertian Sistem Sosial Budaya
Pengertian sistem Menurut Tatang M. Amirin “Sistem berasal dari bahasa Yunani yang berarti :
1.      Suatu hubungan yang tersusun atas sebagian bagian
2.      Hubungan yang berlangsung diantara satuan-satuan atau komponen-komponen secara teratur.
Sosial Berarti segala sesuatu yang beralian dengan sistem hidup bersama atau hidup bermasyarakat dari orang atau sekelompok orang yang didalamnya sudah tercakup struktur, organisasi, nila-nilai sosial, dan aspirasi hidup serta cara mencapainya.
Budaya Berarti cara atau sikap hidup manusia dalam hubungannya secara timbal balik dengan alam dan lingkungan hidupnya yang didalamnya tercakup pula segala hasil dari cipta, rasa, karsa, dan karya, baik yang fisik material maupun yang psikologis, dan spiritual.
Kehidupan Masyarakat Sebagai Sistem Sosial dan Budaya
Kehidupan masyarakat dipandang sebagai suatu sistem atau sistem sosial, yaitu suatu keseluruhan bagian atau unsur-unsur yang saling berhubungan dalam suatu kesatuan.
Alvin L. Bertrand, suatu sistem sosial terdapat :
a.       Dua orang atau lebih
b.      Terjadi interaksi antara mereka
c.       Bertujuan
d.      Memiliki struktur, harapan-harapan bersama yang didomaninya. Dalam sistem sosial pada umumnya terdapat proses yang saling mempengaruhi. Hal ini disebabkan karena adanya saling keterkaitan antara satu unsur dengan unsur lainnya.
Margono Slamet, sistem sosial dipengaruhi oleh ekologi; demografi; kebudayaan; kepribadian; waktu, sejarah, dan latar belakang.
ü  Ciri utama sistem sosial menerima unsur-unsur dari luar (terbuka). Namun juga menimbulkan terjalinnya ikatan antarunsur-unsur dengan unsur lainnya (internal) dan saling pertukaran antara sistem sosial itu sendiri dengan lingkungannya (eksternal).
ü  Proses-proses dalam sistem sosial :
a.       Komunikasi
b.      Memelihara tapal batas
c.       Penjalinan sistem
d.      Sosialisasi
e.       Pengawasan sosial
f.       Pelembagaan
g.      Perubahan sosial
D.      Kehidupan Masyarakat Sebagai Sistem Budaya
v  Mempelajari tentang sistem bertindak → perilaku
v  Unsur perilaku → “gerak sosial”
Ada 4 syarat yaitu:
-          Untuk mencapai tujuan tertentu
-          Terjadi pada situasi tertentu
-          Diatur kaidah tertentu
-          Didorong motivasi tertentu
v  Hakikat beberapa subsistem tersebut sebagai pengaturan/cybernetic order → tiap subsistem yang berada diatasnya menjadi pengatur untuk subsistem dibawahnya.
Menurut Parsons, ke 4 subsistem bertindak sebagai kebutuhan fungsional yang disebut sebagai imperative functional LIGA.
Gerak Sistem Sosial
Subsistem budaya                                : Latent patern maintenance
Subsistem sosial                                   : Integration
Subsistem kepribadian                         : Goal attaintment
Subsistem organisasi perilaku               : Adaptation
Latent Patern Maintenence (L) atau fungsi mempertahankan pola. Subsistem budaya memberi jawaban terhadap masalah dari faktor-faktor falsafah hidup.
Integration (I) atau fungsi integrasi mencakup faktor-faktor penting dalam mencapai keadaan serasi antar sistem.
Goal atteinment (G) atau fungsi mencapai tujuan. Faktor penentu :
a.       Pengembangan sistem untuk menjunjung nilai dan kaidah.
b.      Pengorganisasian untuk mencapai tujuan bersama.
Adaptation (A) atau fungsi adaptasi. Mencakup pengarahan dan penyesuaian kebutuhan pokok manusia dengan keadaan sekitar.
Subsistem sosial budaya merupakan struktur dan proses dalam suatu wadah tertentu dalam kehidupan masyarakat yang mempunyai unsur pokok sebagai berikut :
a.       Kepercayaan
b.      Perasaan dan pikiran
c.       Tujuan
d.      Kaidah
e.       Kedudukan dan peranan
f.       Pengawasan
g.      Sanksi
h.      Fasilitas
i.        Kelestarian dan kelangsungan hidup
j.        Keserasian kualitas kehidupan dengan lingkungan
Unsur-unsur pokok dapat dijumpai pada keluarga batih.  Dengan ciri-ciri sebagai berikut :
a.       Adanya kepercayaan terbentuknya keluarga batik dari kodrat alamiah
b.      Perwujudan perasaan dan pikiran anggota keluarga batih berupa menghargai, bersaing.
c.       Tujuan keluarga batih agar manusia dapat bersosialisasi, mendapat jaminan ketentraman hidup.
d.      Memiliki norma yang mengatur hubungan suami dengan istri, orang tua dengan anak- anak mereka.
e.       Memiliki kedudukan dan peranan masing- masing.
f.       Memiliki pengawasan tertentu dari orang tua dan masyarakat.
g.      Adanya penerapan sanksi.
h.      Adanya sarana pengawasan dan sosialisasi.
i.        Adanya konsep kelestarian sebagai stabilitas kehidupan manusia, kelangsungan hidup sebagai pencerminan dinamika.
j.        Adanya kuantitas sebagai pencerminan nilai benda, kualitas pencerminan nilai sikap.
E.       Kebudayaan dan Masyarakat
Budaya atau kebudayaan berasal dari bahasa Sansekerta yaitu buddhayah, yang merupakan bentuk jamak dari buddhi (budi atau akal) diartikan sebagai hal-hal  yang berkaitan dengan budi dan akal manusia. Dalam bahasa Inggris, kebudayaan disebut culture, yang berasal dari kata Latin Colere, yaitu mengolah atau mengerjakan. Kata culture juga kadang diterjemahkan sebagai "kultur" dalam bahasa Indonesia.
Menurut Edward Burnett Tylor, kebudayaan merupakan keseluruhan yang kompleks, yang di dalamnya terkandung pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat, dan kemampuan-kemampuan lain yang didapat seseorang sebagai anggota masyarakat.
Menurut Selo Soemardjan dan Soelaiman Soemardi, kebudayaan adalah sarana hasil karya, rasa, dan cipta masyarakat.
Bronislaw Malinowski mengatakan ada 4 unsur pokok yang meliputi:
§  Sistem norma sosial yang memungkinkan kerja sama antara para anggota masyarakat untuk menyesuaikan diri dengan alam sekelilingnya
§  Organisasi ekonomi
§  Alat-alat dan lembaga-lembaga atau petugas-petugas untuk pendidikan (keluarga adalah lembaga pendidikan utama)
§  Organisasi kekuatan (politik)
§  Wujud
Menurut J.J. Hoenigman, wujud kebudayaan dibedakan menjadi tiga :
a.       Gagasan ( Wujud Ideal )
Wujud ideal kebudayaan adalah kebudayaan yang berbentuk kumpulan ide-ide, gagasan, nilai-nilai, norma-norma, peraturan, dan sebagainya yang sifatnya abstrak; tidak dapat diraba atau disentuh.
b.      Aktifitas ( Tindakan )
Aktivitas adalah wujud kebudayaan sebagai suatu tindakan berpola dari manusia dalam masyarakat itu. Wujud ini sering pula disebut dengan sistem sosial.
c.       Artefak ( Karya )
Artefak adalah wujud kebudayaan fisik yang berupa hasil dari aktivitas, perbuatan, dan karya semua manusia dalam masyarakat berupa benda-benda atau hal-hal yang dapat diraba, dilihat, dan didokumentasikan.
Komponen
ü  Kebudayaan material
Kebudayaan material mengacu pada semua ciptaan masyarakat yang nyata, konkret.
ü  Kebudayaan nonmaterial
Kebudayaan nonmaterial adalah ciptaanciptaan abstrak yang diwariskan dari generasi ke generasi, misalnya berupa dongeng, cerita rakyat, dan lagu atau tarian tradisional.


BAB II
IMPLEMENTASI SISTEM SOSIAL BUDAYA INDONESIA

Sistem Sosial Budaya Indonesia sebagai totalitas nilai, tata sosial, dan tata laku manusia Indonesia harus mampu mewujudkan pandangan hidup dan falsafah negara Pancasila ke dalam segala segi kehidupan berbangsa dan bernegara. Asas yang melandasi pola pikir, pola tindak, fungsi, struktur, dan proses sistem sosial budaya Indonesia yang diimplementasikan haruslah merupakan perwujudan nilai-nilai Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945, transformasi serta pembinaan sistem sosial budaya harus tetap berkepribadian Indonesia.
1.        Asas Sistem Sosial Budaya Indonesia
Pada dasarnya, masyarakat Indonesia sebagai suatu kesatuan telah lahir jauh sebelum lahirnya (secara formal) masyarakat Indonesia. Peristiwa sumpah pemuda antara lain merupakan bukti yang jelas. Peristiwa ini merupakan suatu konsensus nasional yang mampu membuat masyarakat Indonesia terintegrasi di atas gagasan Bineka Tunggal Ika.
Konsensus adalah persetujuan atau kesepakatan yang bersifat umum tentang nilai-nilai, aturan, dan norma dalam menentukan sejumlah tujuan dan upaya mencapai peranan yang harus dilakukan serta imbalan tertentu dalam suatu sistem sosial. Model konsensus atau model integrasi yang menekankan akan unsur norma dan legitimasi memiliki landasan tentang masyarakat, yaitu sbb:
a.       Setiap masyarakat memiliki suatu struktur yang abadi dan mapan
b.      Setiap unsur dalam masyarakat memiliki fungsinya masing-masing dalam kelangsungan masyarakat tersebut sebagai suatu sistem keseluruhan.
c.       Unsur dalam masyarakat itu terintegrasi dan seimbang
d.      Kelanjutan masyarakat itu berasaskan pada kerja sama dan mufakat akan nilai-nilai.
e.       Kehidupan sosial tergantung pada persatuan dan kesatuan.
Apabila menelaah pernyataan tersebut, maka dapat dikatakan bahwa peristiwa Sumpah Pemuda merupakan konsensus nasional yang mendapat perwujudannya di dalam sistem budaya Indonesia yang didasarkan pada asas penting, yaitu sebagai berikut ini.
a.       Asas kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa
Kesempurnaan hanya dapat dicapai oleh manusia dalam bermasyarakat, berbangsa dan bernegara melalui semangat dan takwa, sebab pada akhirnya apa yang diperoleh manusia, masyarakat, bangsa, dan Negara, bahkan kemerdekaan itu adalah rahmat Tuhan Ynag Maha Esa.
b.      Asas merdeka
Kemerdekaan adalah hak segala bangsa, karena itu kehidupan pribadi/ keluarga, masyarakat, dan bangsa yang bebas itu mempunyai tanggung jawab dan kewajiban bermasyarakat, berbangsa dan bernegara yang menghargai, menghormati dan menjunjung tinggi kemerdekaan itu.
c.       Asas persatuan dan kesatuan
Bangsa Indonesia terdiri atas aneka ragam suku, budaya, bahasa, adat istiadat daerah dan sebagainya telah membentuk Negara Republik Indonesia yang meletakkan persatuan dan kesatuan sebagai asas sosial budayanya.
d.      Asas kedaulatan rakyat
Kehidupan pribadi atau keluarga dalam bermasyarakat, berbangsa dan bernegara selalu mengutamakan musyawarah untuk mufakat dalam rangka mengutamakan kepentingan umum di atas kepentingan golongan/pribadi.
e.       Asas adil dan makmur
Setiap pribadi/ keluarga dalam kehidupan harus mempunyai kehidupan yang layak dan adil sehingga pekerjaan, pendidikan, profesi, kesehatan, pangan, pakaian, perumahan, dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa menjadi hak yang dipertanggungjawabkan dalam bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
2.        Pola Pikir, Pola Tindak, dan Fungsi Sistem Sosial Budaya Indonesia
Masyarakat indonesia adalah masyarakat majemuk, yang hidup tersebar diseluruh tanah air , yang memiliki berbagai macam ragam budaya. Sehingga menimbulkan keanekaragaman institusi dalam masyarakat.
Institusi adalah suatu konsep sosiologi yang paling luas digunakan, walau
memiliki pengertian yang berlainan :
a.       Digunakan untuk merujuk suatu badan, seperti universitas dan perkumpulan
b.      Organisasi yang khusus atau disebut pula institusi total, seperti penjara atau rumah sakit
c.       Suatu pola tingkah laku yang telah menjadi biasa atau suatu pola relasi sosial yang memiliki tujuan sosial tertentu
Bronislaw menganggap institusi sosial merupakan konsep utama untuk memahami masyarakat, yang setiap institusi saling berkaitan dan masing-masing memiliki fungsinya.
Koentjaraningrat mengatakan, bahwa seluruh total dari kelakuan manusia yang berpola tertentu bisa diperinci menurut fungsi-fungsi khasnya dalam memenuhi kebutuhan hidup manusia dalam bermasyarakat.
Maka pola pikir, pola tindak dan fungsi sistem sosial budaya Indonesia merupakan institusi sosial, yaitu suatu sistem yang menunjukkan bahwa peranan sosial dan norma-norma saling berkait, yang telah disusun guna memuaskan suatu kehendak atau fungsi sosial.
a.        Pola Pikir Sistem Sosial Budaya Indonesia
1)      Negara berdasarkan atas Ketuhanan Yang Maha Esa
Kehidupan Beragama atau kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa harus dapat mewujudkan kepribadian bangsa Indonesia yang percaya terhadap Tuhan Yang Maha Esa
2)      Negara Persatuan
Negara Republik Indonesia adalah negara persatuan yang mendfasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. Hal ini berarti bahwa penyelenggaraan kehidupan negara harus berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 secara murni dan konsekuen. Maka, pembangunan nasional adalah pengamalan Pancasila dan hakikatnya pembangunan nasional itu adalah pembangunan seluruh manusia Indonesia dalam kehidupan manusia yang serba cepat dan canggih.
3)      Demokrasi Pancasila
Dalam negara Republik Indonesia yang berkedaulatan rakyat, berdasarkan atas kerakyatan dan permusyawaratan perwakilan, kehidupan pribadi atau keluarga dalam bermasyarakat, berbangsa dan bernegara harus mampu memilih perwakilannya dan pemimpinnya yang dapat bermusyawarah untuk mufakat dalam mengutamakan kepentingan umum diatas kepentingan golongan dan perseorangan demi terselenggaranya kesejahteraan sosial bagi seluruh rakyat. Karena itu, sistem menejemen sosial perlu ditegakkan, baik melalui peraturan perundang-undangan maupun moral
4)      Keadilan Sosial bagi Semua Rakyat
Letak geografis Indonesia, sumberdaya alam, dan penduduk Indonesia dalam bermasyarakat, berbangsa dan bernegara harus mempunyai politik, ekonomi, sosial, budaya, pertahanan, dan keamanan yang berkeadilan bagi semua rakyat.
5)      Budi Pekerti
Setiap pribadi atau keluarga dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara harus memelihara budi pekerti kemanusiaan yang luhur dan memegang teguh cita-cita moral rakyat yang luhur. Berarti bahwa kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan beribadah menurut agama dan kepercyaannya itu harus dijamin, dimana pendidikan dan pengajaran menjadi hak warga negara yang membutuhkan suatu sistem pendidikan nasional. Kebudayaan Nasional adalah kebudayaan yang timbul sebagai buah usaha budi daya rakyat Indonesia seluruhnya, termasuk kebudayaan lama dan asli yang terdapat sebagai puncak-puncak kebudayaan didaerah-daerahseluruh Indonesia. Kebudayaan harus menuju kearah kemajuan serta tidak menolak bahan-bahan baru dari kebudayaan asing yang dapat memperkembangkan atau memperkaya kebudayaan bangsa sendiri serta mempertinggi derajat kemanusiaan bangsa Indonesia.
b.        Pola Tindak Sistem Sosial Budaya Indonesia
1.         Gotong Royong
Persatuan dan kesatuan hanya terwujud melalui gotong royong, suatu sikap
kebersamaan dan tenggang rasa, baik dalam duka maupun suka, kehidupan keluarga, bermasyarakat, berbangsa dan berneara
2.      Prasaja
Keadilan sosial bagi seluruh masyarakat tidak akan terwujud apabila kehidupan yang sederhana, hemat, cermat, disiplin, professional, dan tertib tidak dilaksanakan.
3.      Musyarawah untuk Mufakat
Mengutamakan kepentingan umum di atas kepentingan golongan atau perorangan dapat menemui perbedaan yang tidak yang tidak diakhiri dengan perpecahan atau perpisahan, maupun pertentangan.
4.      Kesatria
Persatuan dan kesatuan, maupun keadilan sosial tidak dapat terwujud tanpa
keberanian, kejujuran, kesetiaan, pengabdian, dan perjuangan yang tidak mengenal menyerah demi kehidupan bersama.


5.      Dinamis
Kehidupan pribadi/keluarga, bangsa dan negara juga bersifat dinamis sesuai dengan jaman, sehingga waktu sangat penting dalam rangka persatuan dan kesatuan, maupun keadilan sosial bagi seluruh rakyat.
Fungsi Sistem Sosial Budaya Indonesia
1.        Dalam Keluarga
Keluarga adalah lahan pembibitan manusia seutuhnya. Keluarga adalah organisasi alami yang penuh kasih sayang.
2.        Dalam Masyarakat
Organisassi sosial kemasyrakatan ini adalah lahan pengkaderan, sebagai keluarga buatan, gotong royong buatan, yang penuh perbedaan kepentingan.
3.        Dalam Berbangsa dan Bernegara
Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, penyelenggaraan negara dan pemerintah harus mengutamakan kepentingan umum.
3.        Struktur Sistem sosial budaya Indonesia
Raymond firth mengemukakan bahwa konsep struktur sosial merupakan analytical tool, yang diwujudkan untuk membantu pemahaman tentang tingkah laku manusia dalam kehidupan sosial. Dasar yang penting dalam struktur sosial ialah relasi-relasi sosial yang jelas penting dalam menentukan tingkah laku manusia, yang apabila relasi sosial itu tidak dilakukan, maka masyarakat itu tak terwujud lagi. Struktur sosial juga dapat ditinjau dari segi status, peranan, nilai-nilai, norma, dan institusi sosial dlm suatu relasi.
Nilai adalah pembentukan mentaliatas yang dirumuskan dari tingkah laku manusia sehingga menjadi sejumlah anggapan yang hakiki, baik, dan perlu dihargai.
Dari pendapat Raymond firth dan max weber, system nilai yang harus diwujudkan atau diselenggarakan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara ditemukan dalam proses pertumbuhan pancasila sebagai dasar falsafah atau ideologi Negara.
Jadi, struktur system sosial budaya indonesia dapat merujuk pada nilai-nilai yang terkandung dalam pancasila yang terdiri atas :
a.         Tata nilai
Tata nilai ini meliputi:
a)      Nilai agama
b)      Nilai kebenaran
c)      Nilai moral
d)     Nilai vital
e)      Nilai meterial
b.        Tata sosial
NKRI adalah Negara hukum, semua orang adalah sama di mata hukum. Tata hukum di Indonesia adalah system pengayoman yang mewujudkan keadilan dan kesejahteraan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
c.         Tata laku
Dalam mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat, maka tata laku harus berpedoman pada norma- norma yang berlaku, yaitu : norma agama, norma kesusilaan/kesopanan, norma adat istiadat, norma hukum setempat, norama hukum Negara.
4.        Proses Sistem Sosial Budaya Indonesia
Masyarakat mempunyai bentuk – bentuk struktural, yang dinamakan struktur sosial. Struktur sosial ini bersifat statis dan bentuk dinamika masyarakat disebut proses sosial dan perubahan – perubahan sosial. Masyarakat yang mempunyai bentuk – bentuk strukturalnya tentu mengalami pola – pola perilaku yang berbeda – beda juga tergantung dengan situasi yang dihadapi masyarakat tersebut. Perubahan dan perkembangan masyarakat yang mengarah pada suatu dinamika sosial bermula dari masyarakat tersebut melakukan suatu komunikasi dengan masyarakat lain, mereka membina hubungan baik itu berupa perorangan atau kelompok sosial. Tetapi sebelum suatu hubungan dapat terjadi perlu adanya suatu proses berkaitan dengan nilai – nilai sosial dan budaya dalam masyarakat.
Dengan suatu masyarakat yang mengetahui nilai sosial dan budaya masyarakat lain maka hubungan dapat terbentuk. Maka dapat diartikan bahwa proses sosial adalah sebagai pengaruh timbal balik antara berbagai segi kehidupan bersama.
Proses sistem sosial budaya Indonesia mempunyai suatu dinamika tersendiri yang merupakan bagian yang tidak dapat terpisahkan dari proses pembangunan nasional sebagai pengamalan Pancasila, yang pada hakikatnya pembangunan seluruh rakyat Indonesia. Maka pada dasarnya proses sistem sosial budaya Indonesia selalu berkaitan dengan pembangunan nasional di mana ia berlangsung beriringan dengan pebangunan nasional, bahkan kadang bisa mendahului pembangunan nasional agar masyarakat dapat menerima pembaharuan sebagai hasil pembangunan nasional.
Setelah menyiapkan masyarakat agar mampu menerima pembangunan, maka kemudian menyiapakan agar manusia dan masyarakat dapat berperan serta dalam proses pembangunan nasional tersebut dengan memiliki kualitas sebagai berikut :
a)           Beriman dan taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa
b)           Berbudi pekerti luhur
c)           Berkepribadian
d)          Bekerja keras
e)           Berdisiplin
f)            Tangguh
g)           Bertanggung jawab
h)           Mandiri
i)             Cerdas dan terampil
j)             Sehat jasmani dan rohani
k)           Cinta tanah air
l)             Memiliki sifat kebangsaan dan kesetiakawanan sosial
m)         Percaya pada diri sendiri dan memiliki harga diri
n)           Inovatif dan kreatif
o)           Produktif dan berorientasi ke masa depan
Karena pembangunan nasional yang selalu beriringan dengan proses sistem sosial budaya Indonesia maka jika manusia atau masyarakat ikut serta dalam pembangunan nasional mereka juga ikut berperan serta dalam proses sistem sosial budaya Indonesia sehingga komunikasi akan terjadi di antara mereka yang kemudian suatu hubungan dapat terjalin. Hal ini dapat menyababkan dinamika sosial terjadi yang akan menuju pada perubahan dan perkembangan pada masyarakat tersebut yang ke arah lebih baik.
5.         Transformasi Sistem Sosial Budaya Indonesia
Pembangunan nasional merupakan suatu upaya melakukan transformasi atau perubahan dalam masyarakat, yaitu transformasi dari budaya masyarakat agraris tradisional menuju budaya masyarakat industri modern dan masyarakat informasi yang tetap berkepribadian Indonesia.
Namun sistem feodalisme yang masih bercokol dalam kehidupan masyarakat Indonesia membawa dampak negatif yakni berupa kelemahan mentalitas. Kelemahan mentalitas ini dapat menghambat pembangunan nasional.
Menurut Koentjaraningrat terdapat 2 jenis mentalitas dalam masyarakat Indonesia, yaitu:
a.       Mentalitas yang cocok dengan jiwa pembangunan
1.         Tidak berspekulasi tentang hakikat kehidupan , karya, dan hasil karya manusia, tetapi manusia itu bekerja keras untuk dapat makan.
2.         Menghargai waktu, artinya selalu memperhitungkan tahapan-tahapan aktivitas dalam lingkaran waktu.
3.         Tidak merasa tunduk pada alam, sebaliknya juga tidak merasa mampu menguasainya. Hidup harus selaras dengan alam sekelilingnya.
4.         Memiliki rasa kahidupan bersama.
Pada hakikatnya manusia tidak berdiri sendiri melainkan selalu membutuhkan bantuan dari sesamanya. Hanya saja sisi negatifnya adalah jangan dengan sengaja berusaha menonjolkan diri di atas orang lain.
b.      Mentalitas yang tidak cocok dengan jiwa pembangunan
1.          Tidak bersumber kepada suatu nilai yang berorientasi terhadap hasil karya manusia itu sendiri, tetapi hanya terhadap amal dari karya (ibarat orang sekolah, tidak mengejar pengetahuan dan ketrampilan, melainkan mengejar ijazahnya saja).
2.         Masih terdapat rasa sentimen yang agak berlebihan terhadap benda-benda pusaka nenek moyang, mitologi dan banyak hal mengenai masa lampau. Hal ini bukannya melemahkan mentalitas, hanya saja suatu orientasi yang terlampau banyak terarah ke zaman dulu akan melemahkan kemampuan seseorang untuk melihat masa depan.
3.         Berspekulasi tentang masalah hubungan antarmanusia dengan alam, serta terlalu menggantungkan diri pada nasib. Dalam menghadapi kesulitan hidup cenderung berlari ke alam kebatinan (klenik).
4.         Mentalitas yang orientasinya mengarah pada orang yang berpangkat tinggi, senior, dan orang-orang tua, sehingga hasrat untuk berdiri sendiri dan berusaha sendiri masih lemah. Seperti rendahnya disiplin pribadi yang murni, orang cenderung taat jika ada pengawasan dari atas. Juga mentalitas yang selalu menunggu restu dari atasan.
5.         Sifat - sifat kelemahan yang bersumber pada kehidupan keragu-raguan dan hidup tanpa orientasi yang tegas, antara lain:
1)      Sifat mentalitas yang meremehkan mutu
2)      Sifat mentalitas yang suka mengambil jalan pintas
3)      Sifat kurang percaya diri
4)      Sifat tidak berdisiplin murni
5)      Sifat mentalitas yang suka mengabaikan tanggung jawab yang kokoh
Agar perubahan tata laku, tata sosial dan tata nilai dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara tetap mendukung keberhasilan pembangunan nasional, perlu diciptakan pranata-pranata sosial yang dapat mendukung proses transformasi sistem sosial budaya Indonesia.
a)      Mewajibkan sebagai syarat suatu nilai budaya yang berorientasi ke masa depan.
b)      Sifat hemat dan hasrat untuk bereksplorasi dan berinovasi.
c)      Pandangan hidup yang menilai tinggi hasil karya.
d)     Sikap lebih percaya kepada kemempuan sendiri.
e)      Berdisiplin murni dan berani bertanggung jawab sendiri.
f)       Menghilangkan rasa, kepekaan terhadap mutu dan mentalitas mencari jalan pintas.
g)      Mengatasi penyakit-penyakit sosial budaya yang parah, seperti krisis otoritas, krisis ekonomi yang berkepanjangan, kemacetan administrasi, dan korupsi secara menyeluruh yang sekarang masih mengganas dalam masyarakat.
Cara merubah mentalitas yang lemah, antara lain :
a)      Memberi contoh yang baik.
Asumsinya ialah karena banyak orang Indonesia mempunyai mentalitas beorientasi kea rah pembesar-pembesar, maka asal saja orang-orang pembesar itu member contoh yang benar dari atas, itu dapat dikembangkan, misalnya sifat hemat dan lain-lain.
b)      Memberi perangsang yang cocok sebagai motivasi
Motivasi dapat untuk menggerakkan orang untuk bersikap. Contoh, yaitu perangsang yang bisa mendorong orang menjadi lebih berhasrat untuk menabung uangnya di bank adalah tentu tidak hanya bunganya yang menarik misalnya, namun perlu ada perangsang lain, yaitu pelayanan yang baik. Melaksanakan persuasi dan penerangan merupakan jalan lain yang sebenarnya harus di intensifkan oleh para ahali penerangan dan ahli media masa, karena meraka mempunyai imajinasia yang besar.
c)      Menanamkan suatu mentalitas pembangunan yang baru.
Hal itu tentunya hanya mungkin pada generasi yang baru,yaitu anak-anak yang harus diasuh dan dibina dengan kesadaran yang tinggi agar 15 tahun lagi mereka akan menjadi manusia Indonesia baru yang bangga akan usaha dan kemampuannya sendiri, mempunyai hasil karya yang tinggi, mempunyai rasa disiplin, berani bertanggung jawab sendiri dan mempunyai perasaan yang peka terhadap mutu.



BAB III
PENUTUP

A.    KESIMPULAN
Kebudayaan adalah sesuatu yang akan mempengaruhi tingkat pengetahuan dan meliputi sistem ide atau gagasan yang terdapat dalam pikiran manusia, sehingga dalam kehidupan sehari-hari, kebudayaan itu bersifat abstrak
Apa yang telah diuraikan pada bab-bab sebelumnya menunjukan hal-hal yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat yang menyoroti proses sosial dan kebudayaan serta perwujudannya. Hal-hal itu penting untuk dikaji karena didalam masyarakat yang sedang berkembang seperti Indonesia yang terdiri atas berbagai sukubangsa merupakan satu kesatuan sosial yang saling pengaruh-mempengaruhi.
Apabila dapat mengaitkan secara sistimatis dan mendeskripsikan secara baik hubungan saling mempengaruhi antara sistem sosial budaya itu, maka merupakan sumbangan paling penting untuk mendukung strategi pembangunan nasional di Indonesia.

 
DAFTAR PUSTAKA

Pustakanya Silakan Email Ke:
Email: as_ad_khalid61@yahoo.com
Kalau Telat khalid Bls Silakan Tel Ke
Hp: 085260000898

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar